Narasi “ketakutan” mulai bermunculan di ruang publik setelah sebuah laporan survei dari CELIOS dan Kabinet Bayangan beredar luas. Dengan angka-angka besar seperti “75 persen masyarakat stres” dan “93 persen ahli khawatir”, publik seolah disuguhi sebuah potret kegelapan di awal pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun, sebelum kita membiarkan narasi “stres massal” ini memicu kepanikan yang tidak perlu, kita perlu melihat lebih dekat pada mesin di balik angka-angka tersebut.
Metodologi “Cherry-Picking”: Bukan Suara Rakyat, Tapi Suara Algoritma
Kesalahan fatal pertama dalam pembacaan berita ini adalah menganggap 1.122 (atau 1.142) responden sebagai representasi “Masyarakat Indonesia”. Faktanya, CELIOS menggunakan non-probability sampling melalui Meta Ads.
Apa artinya? Artinya, responden dipilih berdasarkan siapa yang muncul di layar ponsel mereka saat iklan berjalan. Mereka adalah orang-orang yang aktif di media sosial, kemungkinan berada di lingkaran urban, dan memiliki paparan informasi tertentu. Ini bukan sampel acak yang mencakup petani di pelosok, pedagang pasar, atau buruh pabrik yang mungkin tidak terpapar “gelembung” (bubble) informasi yang sama. Mengklaim 75% masyarakat stres berdasarkan hasil Meta Ads adalah lompatan logika yang jauh. Itu bukan suara “Masyarakat”, itu adalah suara “pengguna media sosial tertentu”.
“Ahli” dalam Gelembung Sendiri
Lalu, mari bicara soal “93 persen ahli”. Angka ini terdengar mengintimidasi, namun perlu diingat bahwa 93 persen itu diambil dari hanya 129 responden yang dipilih melalui snowball sampling.
Snowball sampling adalah metode di mana satu ahli merekomendasikan ahli lainnya. Dalam dunia akademik dan aktivisme, ini sering kali menciptakan “echo chamber” atau gelembung yang sama. Jika Anda mengumpulkan ahli di lingkaran yang sama, mereka cenderung memiliki latar belakang, keresahan, dan pola pikir yang serupa. Menyamaratakan penilaian 129 orang ini sebagai “konsensus ahli Indonesia” adalah sebuah simplifikasi yang berbahaya.
Antara Riset dan Advokasi
Kita tidak boleh lupa siapa yang melakukan survei ini. CELIOS bukan lembaga survei independen seperti lembaga survei nasional yang bekerja untuk memetakan elektabilitas atau persepsi publik secara netral. CELIOS adalah lembaga yang secara terang-terangan mengakui peran mereka dalam advokasi kebijakan.
Ketika sebuah lembaga yang memiliki agenda advokasi melakukan survei, hasil yang muncul akan sangat dipengaruhi oleh instrumen yang mereka gunakan. Mereka mencari celah untuk mengkritik, dan mereka akan menemukan celah itu jika mereka mencari di tempat yang tepat.
Jangan Termakan Judul Bombastis
Istilah “stres” dalam survei ini bukanlah diagnosis medis, melainkan jawaban subjektif responden terhadap pertanyaan tertentu. Begitu juga dengan penilaian “kondisi fisik dan mental” Presiden yang merupakan persepsi, bukan hasil pemeriksaan klinis.
Narasi yang dibangun oleh media yang mengutip survei ini cenderung “mengambil yang paling dramatis” untuk dijadikan berita utama. Padahal, jika kita melihat metodenya, survei ini adalah sebuah alat advokasi yang cerdas, namun bukan sebuah cermin akurat yang memantulkan kondisi seluruh rakyat Indonesia.
Sebelum kita mengklaim bahwa rakyat sedang “stres”, kita harus sadar bahwa yang mungkin sedang stres adalah mereka yang berada dalam lingkaran informasi yang sama dengan para pembuat survei. Jangan biarkan metodologi yang lemah dibungkus dengan narasi besar yang emosional.