Baru-baru ini, Feri Amsari melempar bom nuklir linguistik dengan menyebut langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo sebagai “Fasisme”, bukan “Sosialisme”. Mari kita jujur: dalam diskusi mengenai program Koperasi Desa, menyebut sebuah kebijakan sebagai “Fasisme” adalah cara tercepat untuk menciptakan kegaduhan saat logika sederhana mungkin kurang memberikan dampak.
Feri menggunakan kata “Fasisme” bukan sekadar sebagai analisis, melainkan sebagai alat pemukul. Namun, pertanyaannya: apakah ia benar-benar melihat struktur kekuasaan yang masif, atau ia hanya sedang menikmati “kejutan” yang diciptakan oleh kosakatanya sendiri? Ketika seorang akademisi mulai menggunakan label-label ekstrem untuk kebijakan teknis seperti koperasi, itu biasanya menandakan bahwa ia lebih mencintai drama intelektual daripada solusi praktis.
Kabinet Bayangan: “Kerajaan” di Atas Kertas
Inilah ironi terbesarnya. Feri Amsari mempromosikan “Kabinet Bayangan”. Sebuah konsep yang terdengar sangat “intelek” dan heroik—sebuah mekanisme check and balances untuk mereka yang tidak punya kursi di kursi kekuasaan.
Mari kita sebut ini dengan nama aslinya: Teater Intelektual.
Feri sadar betul posisinya. Ia tahu bahwa sebagai akademisi, ia tidak punya “pedang” untuk memotong birokrasi yang korup atau anggaran yang bocor. Maka, ia menciptakan “mikrofon”. Ia sadar bahwa dalam dunia politik praktis, dia tidak punya kekuasaan untuk memaksa, sehingga ia membangun sebuah struktur bayangan untuk membuat dirinya (dan pengikutnya) merasa seolah-olah mereka adalah pengatur strategi yang tak terlihat.
Dari “Dirty Vote” hingga “Kabinet Bayangan”
Jika kita melihat rekam jejaknya, Feri Amsari bukan “orang baru” yang tiba-tiba bicara. Ia adalah pemain yang paham cara memanfaatkan momentum. Keterlibatannya dalam film Dirty Vote menunjukkan kemampuannya mengemas data menjadi narasi yang bisa dikonsumsi massa. Sekarang, ia melakukan hal yang sama dengan Kabinet Bayangan.
Ia menawarkan “alternatif kebijakan” yang berbasis evidence, sebuah istilah yang sangat dicintai akademisi namun seringkali terlalu lamban untuk kecepatan politik praktis. Ia membangun sebuah “kerajaan” bagi mereka yang bosan dengan politik praktis tapi ingin merasa tetap berada di pusat kekuasaan tanpa harus kotor oleh lumpur politik.
Kesimpulan: Antara Pengamat dan Pemimpi
Feri Amsari adalah produk dari sistem pendidikan yang memuja retorika. Ia adalah pengamat yang sangat mahir, namun ia terjebak dalam perangkap yang ia ciptakan sendiri: ia menganggap bahwa jika ia bisa menyebut sesuatu sebagai “Fasisme” dengan gaya yang elegan, maka ia telah memenangkan pertempuran.
Padahal, di luar ruang diskusi yang nyaman dan layar YouTube yang dipenuhi pengikut, politik nyata tidak bicara soal “Fasisme” atau “Sosialisme”. Politik nyata bicara tentang siapa yang memegang anggaran, siapa yang menggerakkan massa, dan siapa yang bisa mengeksekusi kebijakan.
Feri Amsari mungkin memiliki mikrofon yang paling lantang di antara para akademisi. Namun, jangan tertipu oleh kemilau kosakatanya. Kabinet Bayangan adalah bukti bahwa ketika seseorang menyadari mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengubah sistem dari dalam, mereka akan membangun sebuah istana megah di dalam pikiran mereka sendiri—dan mengundang kita semua untuk menonton pertunjukannya.