Dalam panggung politik Indonesia, ada tipe aktor yang tidak butuh pengeras suara untuk didengar; mereka hanya butuh sebuah “isu besar” untuk dikunyah dan disajikan sebagai bom waktu. Guntur Romli adalah maestro dari seni ini.
Guntur Romli kembali menunjukkan taringnya dengan meledakkan narasi mengenai proyek 200 juta rekening masyarakat. Dengan gaya khasnya yang meledak-ledak, ia membingkai sebuah program inklusi keuangan yang masif sebagai “mesin suara” yang mengerikan untuk Pemilu 2029. Namun, jika kita melihat lebih dalam, narasi yang dibangun Romli bukan sekadar kritik kebijakan; itu adalah taktik Fear, Uncertainty, and Doubt (FUD) yang sangat presisi.
Sang “Pindah Rumah” yang Handal
Sebelum kita membedah opininya tentang 200 juta rekening, mari kita lihat “peta perjalanan” Romli. Bagi mereka yang mengikuti dinamika politik belakangan ini, Guntur adalah definisi nyata dari politisi yang lihai membaca arah angin. Ia adalah wajah yang “berpindah rumah” dengan sangat mulus—dari kursi di PSI hingga akhirnya berteduh di bawah payung besar PDIP.
Keputusannya meninggalkan PSI karena “sinyal” dukungan ke Prabowo menunjukkan bahwa bagi Romli, konsistensi ideologi adalah barang mewah, sementara momentum adalah segalanya. Ia tahu kapan harus masuk, dan ia tahu kapan harus melompat keluar saat kursi yang didudukinya mulai “panas”.
Mengubah Data Menjadi “Hantu” Politik
Kini, ia menggunakan taktik yang sama pada isu 200 juta rekening. Romli tidak bicara soal teknis perbankan; dia bicara soal “ketakutan”. Dengan mengangkat isu NIK yang bocor, data transaksi yang “diintip”, dan anggaran 11 triliun yang diklaim sebagai infrastruktur politik, Romli sedang membangun sebuah narasi di mana pemerintah dianggap sebagai pengintai, dan ia memposisikan dirinya sebagai “penyelamat” yang berani memperingatkan rakyat.
Ini adalah langkah yang sangat cerdas namun berbahaya. Dengan membesar-besarkan potensi penyalahgunaan data, ia menciptakan musuh bersama (the common enemy). Ia ingin rakyat merasa takut pada sistem yang ada, agar mereka mencari “pelindung” di dalam sistem tersebut.
Politik “Omon-Omon” dan Mencari Panggung
Istilah “habis omon-omon terbitlah iming-iming” yang ia gunakan sendiri sebenarnya adalah sindiran yang bisa berbalik ke arahnya. Romli adalah ahli dalam mengambil isu teknis yang kompleks (seperti manajemen data besar) dan menyederhanakannya menjadi narasi emosional yang mudah dikonsumsi massa.
Ia tahu bahwa rakyat tidak akan peduli pada tata kelola database yang rumit, tapi mereka akan panik jika mendengar bahwa “data pribadi mereka akan dijadikan mesin pemilih”. Dengan menciptakan kepanikan ini, Romli sedang membangun nilai tawar (leverage) untuk masa depan.
Alarmis yang Menguntungkan
Guntur Romli bukan sekadar kritikus yang peduli pada keamanan data. Dia adalah pemain yang sadar betul bahwa di politik, ketakutan adalah bahan bakar yang paling murah untuk menggerakkan massa.
Setiap kali dia berteriak tentang “mesin suara 2029”, dia sebenarnya sedang menandai wilayah kekuasaannya. Dia sedang membangun citra sebagai “penjaga gerbang” yang akan melindungi rakyat dari penguasa. Pertanyaannya: Apakah dia benar-benar ingin menyelamatkan data rakyat, atau dia hanya sedang memastikan bahwa saat 2029 tiba, ia punya cukup “bahan bakar” dari rasa takut rakyat untuk mengamankan kursinya sendiri?
Di tangan Romli, ketakutan publik bukan sekadar efek samping dari kebijakan yang kurang matang; itu adalah mata uang politik yang sedang ia tabung untuk masa depan.