2026-09-10 // REPORT
Ekonomi

Ferry Latuhihin dan Industri ‘Ketakutan’ Ekonomi: Saat Data Menjadi Bahan Bakar Drama

Di lingkaran elit ekonomi dan pasar modal, Ferry Latuhihin sering dilabeli sebagai sosok “eksentrik”. Namun, jika kita membedah retorika “eksentrik” tersebut dengan kacamata yang lebih jernih, ada sebuah pola yang mengkhawatirkan: eksentrisitas hanyalah topeng bagi sebuah mesin pencari perhatian (attention economy) yang haus akan validasi.

Ferry Latuhihin tidak lagi berbicara sebagai akademisi yang mencari solusi teknis. Ia bicara sebagai “alarm” yang sengaja dibuat berbunyi nyaring agar semua orang menoleh padanya.

Retorika “Kebenaran” yang Terkurasi
Mari bicara tentang angka-angka yang ia lempar ke publik. Ia menyoroti kenaikan Pinjol sebesar 25,88% dan pertumbuhan gaji buruh yang “hanya” 1,7% di tengah ekonomi yang tumbuh 5,45%. Secara faktual? Ya, itu mungkin benar. Tapi cara Ferry mengemasnya adalah sebuah teknik fear-mongering (penyebaran ketakutan) yang sangat rapi.

Ia mengambil data yang nyata, lalu mengolahnya menjadi narasi “kehancuran” yang dramatis untuk membangun posisi sebagai “penyelamat” atau “nabi” yang hanya berani bicara jujur. Di tangan Ferry, data bukan lagi alat untuk kebijakan, melainkan amunisi untuk membangun branding “Jenderal Keuangan” di YouTube. Dia tahu bahwa di era algoritma, kemarahan dan ketakutan adalah mata uang yang paling mudah dikonversi menjadi views dan pengikut.

Diplomasi Meja Makan vs. Drama YouTube
Hal yang paling mencengangkan dari posisi Ferry adalah hubungannya dengan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Katanya, mereka adalah teman selama 25 tahun. Di dunia profesional, ini adalah hubungan yang sangat dalam. Namun, Ferry memilih untuk memainkan peran sebagai “pengkhianat yang berani”.

Ia menggunakan kedekatannya dengan lingkaran dalam untuk mendapatkan informasi, lalu menggunakan “keberaniannya” untuk membedah kebijakan mereka di depan publik. Ini adalah strategi yang sangat cerdik: ia tetap memiliki akses ke elit (melalui pertemanan lama), namun mendapatkan pengabdian massa (lewat kritik tajam). Dia memainkan dua sisi meja, sekaligus menikmati posisi sebagai “pahlawan” yang berani melawan arus, padahal ia tahu persis di mana posisi kursinya.

Dari Akademisi ke “Content Creator”
Ada yang hilang saat seorang pakar ekonomi dengan gelar S3 dari Rotterdam berubah menjadi influencer media sosial. Ketajaman analisisnya seringkali tertutup oleh kebutuhan untuk terlihat “provokatif”. Ketika ia menyebut kebijakan pemerintah sebagai “Koplaknomics” atau menyindir program Makan Bergiri Gratis sebagai milik “orang-orang tertentu”, ia bukan lagi sedang berdebat teknis ekonomi. Ia sedang melakukan marketing politik.

Ferry Latuhihin tidak sedang mencoba memperbaiki ekonomi dengan data; dia sedang membangun kerajaan narasi di mana dia adalah pemeran utamanya. Dia bukan sekadar alarm; dia adalah alarm yang sengaja diatur volumenya agar bisa terdengar paling keras di antara semua orang, memastikan bahwa setiap kali rakyat merasa bingung, mereka akan mencari wajahnya untuk mencari kepastian.

Masalahnya, ketika seorang ahli ekonomi mulai menggunakan “ketakutan” sebagai alat pemasaran utama, maka kejujuran intelektualnya mulai tergerus oleh kebutuhan akan engagement.

Ferry Latuhihin mungkin benar dalam angka, tapi ia sedang “bermain” dengan emosi massa demi sebuah panggung yang ia bangun sendiri. Pertanyaannya: Apakah kita ingin diselamatkan oleh seorang ahli ekonomi, atau hanya sekadar dijadikan penonton dalam pertunjukan teater “eksentrik” miliknya?