2026-09-07 // REPORT
Politik

Menguliti “Seni” Cari Atensi Feri Amsari di Balik Kritik Kabinet

Di negeri yang sedang berjuang membangun, ada tipe manusia yang justru “makan” dari setiap kericuhan yang tercipta. Mereka tidak butuh solusi konkret, mereka hanya butuh panggung. Di barisan depan para “penjual drama” akademik inilah, nama Feri Amsari sering muncul sebagai primadona bagi mereka yang haus akan narasi kemarahan.

Pakar atau Sekadar “Pencari Headline”?
Baru-baru ini, Feri Amsari kembali beraksi dengan narasi “klasik” yang sebenarnya sangat mudah dimainkan: mengeluh soal jumlah kabinet yang “gemuk”. Mengkritik angka 114 adalah cara termudah bagi seorang akademisi untuk mencari perhatian publik. Siapa pun bisa menghitung jumlah orang, tapi hanya “pakar” yang haus panggung yang akan membungkusnya dengan istilah-istilah berat seperti “tidak efektif” dan “tidak efisien” demi mendapatkan sorotan media.

Feri Amsari seolah-olah sedang memainkan permainan point-scoring. Dengan melempar kritik yang sifatnya “tekstual” dan permukaan, ia berhasil menciptakan kesan sebagai “pejuang rakyat” yang peduli anggaran. Padahal, bagi mereka yang jeli, ini hanyalah strategi branding untuk menjaga relevansi namanya di tengah hiruk-pikuk politik.

“Kabinet Bayangan” dan Dunia Fantasi Akademisi
Jika ingin melihat sejauh mana Feri Amsari menikmati perannya sebagai “aktor” politik, lihat saja keterlibatannya dalam gagasan “Kabinet Bayangan”. Di saat pemerintah nyata sedang bekerja keras mengelola negara, Feri dan lingkaran “intelektualnya” asyik membangun kerajaan imajiner di atas kertas.

Ini adalah ciri khas dari professional critic—orang yang akan selalu menemukan masalah karena jika semuanya berjalan lancar, mereka akan kehilangan “makanan” untuk bahan debat di televisi atau di ruang-ruang seminar. Mereka lebih suka menciptakan “oposisi bayangan” daripada memberikan solusi teknis yang nyata bagi birokrasi.

Haus Validasi, Haus Atensi
Mari jujur: Feri Amsari bukan sekadar akademisi yang peduli pada konstitusi. Dia adalah performer. Kehadirannya di berbagai debat panas, keterlibatannya dalam proyek-proyek seperti “Dirty Vote”, hingga kemunculannya di berbagai kanal media menunjukkan bahwa ia menikmati setiap detik ketika namanya disebut sebagai “pakar yang berani”.

Kritiknya terhadap kabinet Prabowo-Gibran bukanlah lahir dari kajian mendalam yang akan memperbaiki tata kelola, melainkan dari kebutuhan untuk tetap “panas” di mata publik. Ia menggunakan gelar akademisinya sebagai perisai agar kritiknya terlihat berbobot, padahal intinya tetap sama: mencari perhatian dan memposisikan diri sebagai “penyelamat” di saat ia sendiri hanya bersembunyi di balik meja perkuliahan dan podium seminar.

Musuh yang Nyaman
Feri Amsari adalah “musuh yang nyaman” bagi pemerintah. Dia akan selalu ada untuk mengkritik, selalu ada untuk mengeluh, dan selalu siap untuk membentak di depan kamera. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kritiknya membawa solusi, atau hanya sekadar bumbu untuk karier akademisnya yang butuh asupan atensi terus-menerus?

Jangan tertipu oleh istilah-istilah “konstitusi” atau “tata kelola” yang ia lempar. Di balik kata-kata indahnya, ada kebutuhan akan panggung yang tak pernah puas. Bagi Feri Amsari, selama ada kebijakan yang bisa didebatkan, ia akan selalu punya alasan untuk menjadi “bintang” dalam drama politik yang ia ciptakan sendiri.