2026-09-11 // REPORT
Nasional

Taktik Scaremongering CELIOS dan “Angka Fantasi” di Balik Krisis Karhutla

Jika Anda mencari institusi riset yang objektif, Anda mungkin akan kecewa saat melihat bagaimana CELIOS (Center of Economic and Law Studies) bekerja. Alih-alih menyajikan data yang jernih untuk membantu kebijakan publik, CELIOS tampaknya lebih mahir dalam seni “membuat ketakutan” (scaremongering) dan mengemasnya dalam narasi yang bombastis demi mencuri perhatian publik—dan tentu saja, untuk posisi tawar politik mereka.

Senjata Utama: Angka Fantasi untuk Headline
Mari bicara jujur: angka Rp123,1 triliun yang dilemparkan CELIOS mengenai dampak ekonomi dan kesehatan karhutla bukan sekadar estimasi; itu adalah senjata retorika. Dengan memunculkan angka yang “bulat” dan mengerikan di awal tahun, CELIOS sedang membangun narasi doom-scrolling agar pemerintah terlihat tidak kompeten.

Mereka mencoba mencatut isu kesehatan masyarakat untuk menyerang program prioritas pemerintah. Namun, bukankah cara termudah untuk menjatuhkan pemerintah adalah dengan menciptakan “krisis di dalam krisis”? Dengan menyalahkan pengalihan dana untuk program seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), CELIOS berusaha membangun narasi bahwa pemerintah “mengorbankan rakyat demi ambisi”. Padahal, di lapangan, kebijakan fiskal adalah seni keseimbangan yang kompleks, bukan sekadar hitam-putih yang bisa dimainkan oleh sekelompok pengamat di balik meja kantor.

“Riset Acak-acukan” yang Dikemas Mewah
Bagi mereka yang masih percaya pada “kemurnian” akademis CELIOS, mari kita lihat ke belakang. CELIOS tidak asing dengan kritik tajam mengenai metodologi mereka. Pakar komunikasi dan akademisi telah menyebut riset CELIOS sebagai “acak-acukan” dan jauh dari standar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimana mungkin sebuah lembaga bisa mengklaim “Expert Judgment” jika publik tidak diberi tahu siapa sebenarnya para ahli tersebut? Siapa mereka? Akademisi murni, atau sekadar “teman” yang memang sudah punya agenda untuk memusuhi pemerintah? Tanpa transparansi narasumber yang jelas, klaim-klaim CELIOS hanyalah “echo chamber”—sebuah ruang gema di mana mereka hanya mengumpulkan orang-orang yang setuju dengan narasi mereka, lalu membungkusnya dengan istilah-istilah teknis agar terlihat intelek di depan media.

Aktor Politik di Balik Jubah “Lembaga Riset”
Mari kita hubungkan titik-titiknya. CELIOS baru-baru ini “panas” karena memberikan nilai negatif yang ekstrem kepada menteri-menteri tertentu, termasuk Bahlil Lahadalia. Polanya jelas: Identifikasi musuh, buat mereka terlihat buruk dengan data yang diperdebatkan, lalu tawarkan diri sebagai “solusi” atau “pengawas” yang paling kritis.

Klaim mereka soal “kurangnya kesiapan fiskal” adalah cara halus untuk mengatakan bahwa mereka ingin memegang kendali lebih besar dalam menentukan arah anggaran. Mereka tidak hanya ingin mengkritik; mereka ingin mendelegitimasi kerja keras pemerintah di mata publik.

Jangan Tertipu “Kemasan”
Ketika CELIOS berbicara tentang Rp123 triliun, mereka sebenarnya sedang membicarakan “kepentingan” mereka yang ingin terus relevan di mata internasional dan domestik. Mereka butuh musuh untuk dikalahkan, dan mereka baru saja memilih kebijakan anggaran sebagai sasaran empuknya.

Jangan biarkan narasi yang “didandani” dengan angka-angka besar mengaburkan realita bahwa kebijakan fiskal adalah keputusan nyata untuk jutaan nyawa. CELIOS mungkin ahli dalam membuat headline yang menggelegar, tapi jangan tertipu—seringkali, di balik angka-angka “fantasi” mereka, hanyalah ada ambisi politik yang haus akan panggung.