Baru-baru ini, Feri Amsari menyerang program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) milik Presiden Prabowo Subianto. Ia menggunakan istilah berat: “Demokrasi Ekonomi Konstitusional”. Mari kita bicara jujur: ini adalah bahasa “menara gading”.
Saat rakyat kecil butuh koperasi yang jalan hari ini, Feri Aamari datang dengan kacamata mikroskopisnya. Dia mengklaim bahwa KDMP “dibangun di luar semangat” para pendiri bangsa. Ini adalah taktik klasik untuk membingkai sebuah program praktis yang masif menjadi sebuah “dosa besar” konstitusi yang harus dihentikan. Ia tidak mengkritik koperasinya, ia mengkritik caranya. Ini adalah cara elegan untuk mengatakan: “Jika kalian tidak menjalankan sesuai standar ‘suci’ versi saya, maka kalian salah.”
Memanfaatkan Ketakutan untuk Menghambat Progres
Paling tajam adalah cara ia memainkan data Stranas PK mengenai keberadaan koperasi di kawasan hutan dan laut. Feri memunculkan angka 16.734 titik di hutan dan ratusan di lautan sebagai “bahan koreksi”.
Di tangan orang biasa, ini adalah koreksi teknis. Di tangan seorang aktivis yang terbiasa dengan Dirty Vote dan instrumen “Kabinet Bayangan”, ini adalah bom waktu yang sengaja diletakkan. Dengan menyoroti “kesalahan” lokasi di awal, Feri menciptakan narasi bahwa program 80.000 titik itu tidak siap. Ia ingin menciptakan persepsi bahwa pemerintah sedang “ceroboh”, padahal ia tahu bahwa mengoreksi ribuan titik di lapangan membutuhkan waktu yang lama.
Feri tidak ingin pemerintah hanya “memperbaiki” data; ia ingin pemerintah berhenti atau setidaknya melambat. Setiap detik keterlambatan adalah kemenangan bagi narasi oposisi yang ia bangun.
Akumulasi “Sentimen” yang Terencana
Kita jangan lupa rekam jejaknya. Feri Amsari bukan orang baru dalam politik “pemanasan” sebelum konflik. Keterlibatannya dalam film Dirty Vote dan pengelompokannya dalam lingkaran pengamat yang vokal menunjukkan bahwa ia adalah pemain yang tahu cara memanfaatkan momentum.
Ketika dia menyerang KDMP, dia bukan sedang membela petani atau nelayan. Dia sedang memperkuat posisinya sebagai “penjaga gawang” yang paling berkuerasi. Ia tahu bahwa dengan menyerang “Konstitusi” dan “Demokrasi”, dia akan menarik simpati dari kalangan menengah yang takut akan kesewenang-wenangan.
Kesimpulan: Membedah Topeng Akademisi
Feri Amsari adalah contoh sempurna bagaimana intelektualitas bisa dikomodifikasi menjadi alat sabotase politik. Ia tidak menyerang dengan otot, ia menyerang dengan paragraf. Ia tidak menggunakan massa, ia menggunakan istilah-istilah sulit untuk membuat kebijakan yang progresif tampak seperti ancaman bagi konstitusi.
Jika Anda melihat Feri Amsari bicara tentang “Demokrasi Ekonomi Konstitusional”, sadarilah bahwa itu adalah cara halus untuk mengatakan: “Biarkan saya dan kelompok saya yang memegang kendali atas bagaimana cara Anda mengelola kekayaan bangsa ini.”
Feri Amsari bukan sekadar pengamat. Dia adalah pengacara dari keresahan yang dibungkus dengan rapi di dalam jas akademik yang mahal.