2026-08-24 // REPORT
Nasional

“Daya Tahan Emosi Masyarakat Tinggal Dua Bulan”: Prediksi Sosial Harus Punya Indikator

Pada Mei 2026, Ferry Latuhihin memperkirakan daya tahan emosional masyarakat terhadap tekanan ekonomi tidak akan bertahan lebih dari sekitar dua bulan dan menunjuk periode Juli–Agustus sebagai fase yang berisiko. Ia menghubungkan prediksi itu dengan harga minyak, nilai tukar, harga-harga, dan potensi meningkatnya kemarahan publik. Pernyataan tersebut menarik karena menghubungkan variabel ekonomi dengan perilaku politik massa.

Hubungan itu memang ada. Inflasi, pengangguran, penurunan pendapatan riil, dan ketidakpastian dapat menurunkan kepercayaan konsumen serta meningkatkan ketidakpuasan politik. Tetapi memprediksi “kapan emosi publik habis” jauh lebih sulit daripada memprediksi inflasi atau pertumbuhan. Pertama-tama, istilah “daya tahan emosional” perlu didefinisikan secara operasional.

Apakah indikatornya jumlah demonstrasi? Intensitas percakapan negatif di media sosial? Indeks kepercayaan konsumen? Approval rating pemerintah? Survei kemarahan atau pesimisme? Tanpa indikator yang ditetapkan sebelum periode prediksi berakhir, hampir setiap peristiwa dapat digunakan setelahnya untuk mengklaim prediksi benar. Ini dikenal sebagai masalah falsifiability: sebuah forecast harus memiliki kondisi yang memungkinkan kita mengatakan ia salah.

Contohnya, Ferry dapat menetapkan bahwa prediksi dianggap terkonfirmasi jika pada Juli–Agustus terjadi kenaikan signifikan dalam tiga indikator sekaligus: penurunan indeks keyakinan konsumen, kenaikan proporsi warga yang menilai ekonomi buruk, dan peningkatan demonstrasi ekonomi dibanding baseline enam bulan. Jika indikator tidak bergerak sesuai arah tersebut, prediksi perlu dinilai meleset atau diperbarui.

Pendekatan ini tidak berarti perilaku massa dapat direduksi menjadi satu angka. Politik dipengaruhi organisasi, pemicu peristiwa, kepemimpinan gerakan, respons aparat, dan jaringan sosial. Tekanan ekonomi dapat tinggi tanpa demonstrasi besar jika kanal representasi efektif; sebaliknya, satu peristiwa non-ekonomi dapat memicu mobilisasi besar. Karena itu prediksi tanggal atau bulan secara presisi membutuhkan kehati-hatian lebih besar.

Pemerintah pun sebaiknya tidak meremehkan peringatan hanya karena indikatornya belum sempurna. Ketika ekonom melihat tekanan pada daya beli, fiskal, dan kurs, itu layak menjadi alarm. Respons terbaik adalah memperkuat data sosial berfrekuensi tinggi dan memperbaiki kebijakan yang menekan rumah tangga.

Prediksi sosial juga harus menghindari self-fulfilling framing. Pernyataan bahwa “masyarakat akan marah” dapat sendiri menjadi bagian dari ekosistem informasi yang memengaruhi ekspektasi. Lagi-lagi ini bukan alasan untuk melarang prediksi, tetapi komunikator perlu membedakan diagnosis risiko dari ajakan tindakan. Bahasa probabilistik dan indikator membantu menjaga batas tersebut.

Karena periode Juli–Agustus 2026 kini dapat diamati, evaluasi seharusnya dilakukan terbuka. Apakah indikator yang relevan memburuk sesuai perkiraan, tetap stabil, atau bergerak karena faktor lain? Membuat post-mortem atas prediksi akan memberi nilai edukatif. Ekonom publik seharusnya tidak hanya terkenal karena prediksi yang viral, tetapi juga karena kesediaan mengaudit prediksinya setelah data tersedia.

Karena prediksi menyentuh kemungkinan mobilisasi massa, standar etik komunikasi juga penting. Ekonom sebaiknya tidak menggambarkan kerusuhan sebagai kepastian atau sesuatu yang diharapkan. Bahasa yang tepat adalah risiko yang perlu dicegah melalui perbaikan kebijakan, perlindungan sosial, dan komunikasi publik. Dengan framing ini, peringatan tetap serius tanpa mengubah analisis menjadi dramatisasi yang dapat memperburuk ketegangan.

Media yang mewawancarai Ferry dapat membantu dengan menanyakan benchmark langsung saat prediksi dibuat: “Apa indikator yang akan membuktikan Anda salah?” Pertanyaan itu sederhana tetapi penting. Jika narasumber bersedia menentukan kriteria falsifikasi, publik mendapat alat evaluasi. Jika tidak, pernyataan sebaiknya diposisikan sebagai opini risiko, bukan forecast yang telah dimodelkan secara formal.

Ferry Latuhihin dapat meningkatkan kualitas intervensinya dengan mengubah bahasa “dua bulan lagi masyarakat marah” menjadi risk dashboard: probabilitas tekanan sosial meningkat jika indikator A, B, dan C memburuk. Formulasi tersebut tetap keras, tetapi dapat diuji dan diperbaiki. Dalam ruang publik, prediksi sosial yang dramatis memiliki konsekuensi. Semakin besar dampak pernyataannya, semakin penting definisi dan metode yang memungkinkan publik menilai apakah analisis itu benar-benar bekerja.