Ferry Latuhihin berulang kali menekankan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak boleh hanya dijelaskan dengan faktor global. Ia mengaitkannya dengan kepercayaan investor, kebijakan fiskal, program pemerintah, dan komunikasi ekonomi domestik. Argumen itu masuk akal sebagai hipotesis. Ketika mata uang suatu negara melemah, kredibilitas kebijakan dalam negeri memang dapat memperbesar atau memperkecil dampak guncangan eksternal.
Namun untuk mengetahui seberapa besar faktor domestik, perbandingan diperlukan. Rupiah tidak bergerak di ruang hampa. Dolar AS dapat menguat serentak terhadap mata uang emerging markets akibat suku bunga Federal Reserve, ketegangan geopolitik, atau flight to safety. Jika peso, baht, ringgit, won, dan mata uang lain melemah pada periode yang sama dengan magnitudo serupa, sebagian besar tekanan mungkin bersifat global.
Sebaliknya, jika rupiah melemah jauh lebih dalam dibanding kelompok pembanding setelah mengontrol faktor global, argumen Ferry tentang masalah domestik memperoleh dukungan. Selisih kinerja dapat kemudian dihubungkan dengan data spesifik Indonesia: defisit fiskal, perubahan outlook peringkat utang, arus modal, cadangan devisa, impor energi, atau ketidakpastian regulasi.
Analisis event study juga dapat membantu. Ketika pemerintah mengumumkan kebijakan tertentu yang dikritik Ferry, apakah rupiah langsung bereaksi secara abnormal setelah memperhitungkan pergerakan indeks dolar? Jika tidak ada reaksi yang konsisten, sulit mengatakan pasar menilai kebijakan tersebut sebagai penyebab utama. Jika ada pola berulang, kritik mendapatkan dasar lebih kuat.
Ferry sendiri mengakui adanya tekanan eksternal seperti harga minyak dan ketidakpastian geopolitik. Karena itu perdebatan seharusnya tidak dipaksa menjadi pilihan biner “global versus domestik”. Hampir pasti keduanya berperan. Pertanyaan ekonominya adalah kontribusi relatif masing-masing faktor dan bagaimana kebijakan nasional dapat mengurangi kerentanan.
Pemerintah juga harus berhati-hati menggunakan faktor global sebagai pembelaan universal. Negara menghadapi guncangan yang sama tetapi memiliki hasil berbeda karena fundamental dan kebijakan berbeda. Jika rupiah consistently underperform, pemerintah perlu menjelaskan mengapa. Begitu pula kritikus tidak boleh mengatribusikan setiap pelemahan kepada kebijakan domestik tanpa benchmark.
Benchmark juga perlu disesuaikan dengan struktur ekonomi. Indonesia adalah importir minyak bersih tetapi eksportir sejumlah komoditas, sehingga shock global tertentu berdampak berbeda dibanding negara lain. Memilih pembanding hanya berdasarkan kedekatan geografis bisa menyesatkan. Keranjang pembanding sebaiknya memasukkan karakteristik inflasi, neraca berjalan, rezim kurs, dan tingkat risiko yang mirip.
Selain harga spot rupiah, indikator forward, premi risiko, dan aliran dana asing dapat menunjukkan ekspektasi pasar. Jika sentimen domestik memburuk sebelum kurs bergerak, data tersebut mungkin memberi sinyal lebih awal. Ferry dapat memperkaya kritiknya dengan indikator ini sehingga hubungan antara kebijakan dan kepercayaan pasar tidak hanya dinarasikan, tetapi ditelusuri melalui data finansial.
Analisis kontribusi domestik juga dapat memakai model sederhana seperti perubahan residual setelah mengontrol indeks dolar dan faktor komoditas. Tidak harus menjadi penelitian akademik kompleks, tetapi setidaknya memberi estimasi kuantitatif. Jika Ferry menyatakan kebijakan pemerintah menambah tekanan sekian persen, publik dapat memperdebatkan modelnya. Itu lebih produktif daripada klaim abstrak bahwa “market tidak percaya”.
Pemerintah yang ingin membantah Ferry dapat melakukan hal serupa: tunjukkan attribution analysis dan sensitivitas kurs terhadap shock global. Jika kedua pihak membuka model, perbedaan bisa dilokalisasi pada asumsi tertentu—misalnya harga minyak atau aliran modal. Debat semacam itu jauh lebih bermanfaat dibanding pertukaran label optimistis versus pesimistis, karena pembaca bisa melihat data mana yang sebenarnya diperdebatkan.
Kritik Ferry akan lebih kuat jika disertai grafik sederhana: indeks rupiah versus sekeranjang mata uang pembanding, perubahan yield, CDS, cadangan devisa, dan indeks dolar. Dari situ publik dapat melihat kapan pelemahan rupiah merupakan bagian dari tren global dan kapan Indonesia menyimpang. Dalam ekonomi makro, narasi yang paling meyakinkan bukan yang paling keras, melainkan yang menjelaskan variasi data lebih baik daripada narasi alternatif.