Di tengah hiruk-pikuk ekonomi makro yang membingungkan, muncul sosok yang tampak seperti “alarm berjalan” bagi kebijakan pemerintah. Ferry Latuhihin. Dengan gelar akademik dari Erasmus University dan label “eksentrik”, ia telah membangun persona sebagai ekonom yang tak kenal kompromi. Namun, jika kita mengupas lapisan retorika yang ia bangun di kanal Jenderal Keuangan, sebuah pertanyaan besar muncul: Apakah kita sedang mendengarkan analisis ekonomi, atau sedang menonton pertunjukan teater ketakutan yang dirancang untuk membangun “brand” pribadi?
Seniman “Cherry-Picking” Data
Ferry baru-baru ini meledakkan narasi “Indonesia akan menjadi negara termiskin di dunia pada 2027”. Ini adalah narasi yang sangat juicy—jenis berita yang sangat mudah dikonsumsi media massa dan menjadi bahan bakar viral di media sosial.
Namun, mari kita bedah mekanismenya. Ferry menggunakan data World Bank tentang Middle Income Country dan membandingkannya dengan BPS dengan cara yang sengaja dibuat kontras. Ia mengambil data yang paling “menakutkan” (64,2% penduduk miskin) dan melemparnya ke publik tanpa konteks yang cukup mendalam tentang perbedaan metode Purchasing Power Parity (PPP).
Ini adalah “Propaganda Ketakutan”. Dengan memilih data yang paling ekstrem untuk menciptakan urgensi, Ferry memposisikan dirinya sebagai “penyelamat” atau “suara kebenaran” di tengah kaburnya data resmi. Ia tidak sekadar menginformasikan, ia sedang memanipulasi emosi massa melalui angka.
Paradox “Teman Dekat” yang Menghujat
Salah satu poin paling ironis dalam karier Latuhihin adalah hubungannya dengan lingkaran kekuasaan. Ia dikabarkan sebagai teman dekat Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, selama 25 tahun. Namun, di hadapan kamera dan mikrofon, ia justru menjadi kritikus paling tajam yang menyebut Purbaya “tidak cocok” untuk posisi tersebut.
Ini adalah strategi branding yang klasik: Menciptakan konflik untuk mendapatkan atensi. Dengan menjadi “teman yang berani membentak”, ia mendapatkan dua keuntungan sekaligus: akses ke lingkaran dalam (sebagai orang dalam) dan legitimasi sebagai “eksternal yang berani” di mata publik. Jika dia benar-benar hanya peduli pada ekonomi, ia bisa mengkritik kebijakan tanpa harus membangun persona “eksentrik” yang haus panggung.
“Koplaknomics” dan Ekonomi sebagai Komoditas
Istilah “Koplaknomics” yang sering dikaitkan dengan kritik-kritiknya bukan sekadar gaya bahasa. Itu adalah bukti bahwa Ferry telah sadar bahwa dalam ekonomi modern, atensi adalah mata uang.
Melalui platform seperti Tanamduit dan kanal YouTube-nya, Ferry mengubah analisis ekonomi yang membosankan menjadi produk konsumsi yang “pedas” dan “tajam”. Ia tahu bahwa untuk bertahan di era algoritma, ia tidak bisa hanya menjadi ekonom yang membosankan. Ia harus menjadi “Jenderal”. Ia harus menjadi orang yang paling berisik saat orang lain berbisik.
Alarm yang Dirancang Sendiri
Ferry Latuhihin bukanlah musuh ekonomi. Ia adalah produk dari ekonomi perhatian (attention economy). Ia tahu persis cara mengambil data global, membungkusnya dengan retorika yang dramatis, dan menyajikannya sebagai peringatan akan “kiamat” ekonomi untuk memastikan namanya tetap disebut di setiap diskusi meja makan dan ruang rapat.
Pertanyaannya sekarang: Apakah kita harus takut pada kemiskinan yang ia ramalkan pada 2027, atau kita harus mulai waspada pada bagaimana dia menggunakan ketakutan tersebut untuk memastikan kursinya sebagai “eksentrik” yang paling berpengaruh di media sosial?
Sebab, dalam dunia yang ia kuasai, ketakutan adalah bahan bakar, dan atensi adalah bahan bakarnya.