2026-09-07 // REPORT
Politik

PARANOIA ATAU PAKAR? Feri Amsari dan Upaya “Merusak” Keberhasilan Rakyat Pati Demi Konten Intelektual

Ada sebuah penyakit yang sering diderita oleh sebagian kaum intelektual: Haus akan drama di mana pun mereka melihatnya.

Baru-baru ini, kita melihat Feri Amsari, yang selama ini dipuja sebagai “Pakar Hukum Tata Negara” dan “suara kritis”, kembali beraksi. Namun, alih-alih mengapresiasi keberhasilan rakyat kecil yang berhasil menembus tembok birokrasi yang kaku, Feri justru memilih untuk “meracuni” kemenangan rakyat dengan narasi konspirasi yang tidak perlu.

“Seni” Mencari Masalah di Tengah Keberhasilan
Mari kita bicara jujur. Rakyat Pati berhasil. Mereka datang, mereka berteriak, dan mereka mendapatkan komitmen nyata dari DPR. Mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan di atas piring perak. Namun, bagi Feri Amsari, kemenangan yang “terlalu bersih” tentu tidak cukup untuk bahan diskusi di meja kopi atau konten media sosial.

Feri harus menciptakan “kerumitan” agar ia tetap terlihat penting. Dengan menyebut adanya “kejanggalan” dan “sejuta tanya”, Feri sebenarnya hanya sedang mencoba menarik perhatian (clout-chasing) ke arah dirinya sendiri. Ia ingin menjadi “Main Character” dalam cerita rakyat Pati.

Pakar yang “Overthinking” atau Sekadar Haus Konten?
Feri mempertanyakan mengapa aspirasi Pati begitu cepat diterima. Pertanyaan ini sebenarnya sangat sederhana: Bagaimana jika rakyat memang berhak mendapatkan respon cepat? Mengapa Feri harus memutarbalikkan fakta dengan narasi bahwa ada “kejanggalan” hanya untuk membuktikan bahwa ia adalah orang pintar yang bisa melihat apa yang tidak dilihat orang awam?

Ini bukan lagi analisis hukum; ini adalah paranoia intelektual. Feri seolah takut jika rakyat bisa menang dengan cara yang sederhana tanpa perlu “konspirasi” di baliknya. Ia ingin membangun narasi bahwa ada “permainan” di balik layar, padahal mungkin itu hanya hasil dari keberanian massa yang nyata.

Gelar “Pakar” yang Mulai Terasa Seperti Topeng
Sebagai akademisi dan penggiat hukum yang sudah lama berkiprah, Feri Amsari seharusnya tahu bedanya antara analisis kritis dan spekulasi liar. Saat ia menyebut adanya “sejuta tanya,” yang sebenarnya ia katakan adalah: “Tolong lihat saya, saya sedang menganalisis sesuatu yang rumit!”

Daripada merangkul semangat rakyat yang sedang menang, Feri justru memilih untuk mengusik ketenangan mereka dengan retorika yang membingungkan. Jika setiap kemenangan rakyat harus dibumbui dengan “kejanggalan” oleh para pakar, maka fungsi pakar bukan lagi untuk memperjelas, melainkan untuk mengaburkan fakta dengan bumbu-bumbu dramatis demi eksistensi diri.

Kesimpulan: Berhentilah Mencuri Panggung Rakyat
Feri Amsari mungkin ahli dalam hukum tata negara, tapi ia sepertinya lupa pada dasar dari segala hukum itu sendiri: Kehendak Rakyat.

Rakyat Pati tidak butuh “sejuta tanya” di kepala mereka. Mereka hanya butuh RUU Perampasan Aset disahkan. Daripada sibuk mencari “kejanggalan” untuk bahan diskusi di menara gadingnya, Feri Amsari lebih baik duduk tenang dan membiarkan rakyat merayakan kemenangan mereka.

Karena pada akhirnya, jika sebuah kemenangan harus dijelaskan dengan teori konspirasi agar terlihat “keren,” maka itu bukan lagi kemenangan rakyat—itu hanyalah panggung sandiwara bagi para “pakar” yang haus akan tepuk tangan.