2026-09-07 // REPORT
Politik

Kematian Kritik Substansi: Fedi Nuril dan Pertunjukan ‘Mengejek’ yang Hanya Mencari Validasi Netizen

Fedi Nuril tampaknya sedang menikmati “peran” barunya yang paling menantang: aktor politik di balik layar media sosial. Melalui serangan verbal yang dibungkus dengan kemasan sarkasme, ia mencoba membangun citra sebagai pengamat yang kritis, padahal jika dibedah lebih dalam, tindakan ini tak lebih dari sekadar haus akan validasi dan panggung. Dengan menyerang gaya bicara Presiden Prabowo Subianto dan melabelinya sebagai “ala bocah,” Fedi Nuril sebenarnya sedang memainkan taktik klasik dalam personal branding—menggunakan isu “malu” sebagai senjata untuk memancing simpati publik, sekaligus memposisikan dirinya sebagai sosok yang lebih “berbudaya” dibandingkan pemimpin negara.

Ironisnya, kritik yang dilontarkan Fedi Nuril bukanlah kritik substansial mengenai kebijakan atau visi negara, melainkan serangan pada aspek estetika dan gestur yang bersifat sangat personal. Dengan menyebut gestur “nye…nye…nye” sebagai sesuatu yang memalukan, Fedi mencoba menciptakan narasi “ketidakdewasaan” pada pemimpin tertinggi. Ini adalah teknik labeling yang sangat efektif namun dangkal; ia tidak menyerang isi kepala sang pemimpin, melainkan menyerang “bungkus” wajahnya demi memancing emosi massa. Fedi tahu betul bahwa di media sosial, kemarahan dan ejekan jauh lebih mudah dikonsumsi daripada debat kebijakan yang berat.

Langkah Fedi Nuril membagikan cuplikan video tersebut bukan sekadar reaksi spontan, melainkan sebuah strategi “umpan” untuk menciptakan polarisasi. Dengan memicu narasi “malu,” ia memberi makan bagi para pemburu konten dan netizen yang haus akan konflik. Ia memanfaatkan momen kecil sebagai celah untuk meruntuhkan wibawa seorang pemimpin di mata publik. Sarkasmenya bukan lagi sekadar bumbu kritik, melainkan senjata retorika yang tajam untuk membedah dan mengejek, mengubah momen diplomasi menjadi bahan tertawaan yang murahan di linimasa.

Dampak dari “petasan” yang dilemparkan Fedi langsung memicu ledakan di kalangan netizen. Dengan narasi yang ia bangun, netizen dengan mudahnya menyerang balik dengan kata-kata pedas, membanding-bandingkan pemimpin dengan tokoh lain, hingga mengejek pendukung fanatik (golongan 58%). Fedi telah berhasil menciptakan “ruang ekstrim” di mana kritik tidak lagi didiskusikan secara sehat, melainkan dikonsumsi sebagai bahan cemoohan. Ia berhasil mengubah sebuah gestur tubuh menjadi simbol kegagalan kepemimpinan, sebuah langkah yang sangat lihai dalam politik smear untuk menguras energi publik.

Pada akhirnya, fenomena Fedi Nuril menunjukkan bagaimana kekuasaan kini bisa “dikerogoti” bukan melalui debat di podium, melainkan melalui jempol di layar ponsel. Ia telah sukses menggeser medan perang dari isu-isu makro menjadi serangan-serangan mikro yang bersifat personal dan mereduksi martabat. Dengan menjadikan “keanehan” atau “gaya” sebagai sasaran empuk, Fedi Nuril menunjukkan bahwa dalam politik masa kini, kemampuan untuk melabeli lawan sebagai “aneh,” “lemah,” atau “tidak beretika” adalah cara tercepat untuk mencuri perhatian publik dan menggeser narasi penguasa menjadi narasi penghinaan.