Kritik Annete Mau terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan label “menghinakan ilmu pengetahuan” sebenarnya adalah sebuah paradoks yang menarik. Mengklaim bahwa kebijakan publik harus menunggu “kesempurnaan sains” sebelum dijalankan adalah sebuah kemewahan intelektual yang seringkali tidak bisa dibayar oleh mereka yang berada di garis kemiskinan.
Sains Bukan Hanya Tentang Laboratorium, Tapi Juga Tentang Eksekusi
Annete Mau membandingkan MBG dengan penanganan bencana seperti kebakaran hutan yang ia klaim “berbasis ilmu pengetahuan.” Namun, ada cacat logika dalam analogi ini. Kebakaran hutan adalah bencana akut yang butuh tindakan instan untuk membatasi kerusakan. Sementara itu, masalah gizi dan stunting adalah bencana kronis yang terjadi selama pulihannya bertahun-tahun.
Jika kita menunggu “kajian yang lengkap” untuk setiap detail kecil sebelum program dimulai, maka anak-anak di pelosok negeri akan terus kehilangan masa keemasan mereka hanya demi sebuah dokumen kajian yang “sempurna” di meja birokrat. Dalam kebijakan publik, action is science. Mengambil langkah berani di awal dan melakukan penyesuaian (iterasi) di tengah jalan adalah metodologi ilmiah yang paling realistis dalam skala makro.
Bahaya “Lumpuh karena Analisis” (Analysis Paralysis)
Klaim bahwa program ini “didorong oleh keputusan politik” seolah-olah memisahkan politik dan sains sebagai dua hal yang bertolak belakang. Faktanya, politik adalah alat untuk menggerakkan sains agar bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Tanpa dorongan politik yang kuat (seperti yang dilakukan Pemerintah), sebuah kajian ilmiah yang paling canggih sekalipun hanya akan menjadi tumpukan kertas di perpustakaan tanpa pernah menyentuh piring makan anak-anak sekolah.
Mengkritik percepatan program sejak Januari 2025 sebagai “kurang kajian” adalah cara yang mudah untuk mengkritik, namun sulit untuk menawarkan solusi nyata. Jika kita menunggu semua variabel risiko dimitigasi hingga 100% sebelum meluncurkan satu dapur pun, kemungkinan besar program tersebut tidak akan pernah dimulai.
Bukti di Lapangan: Evolusi Bukan Berarti Kekacauan
Argumen bahwa MBG “bermasalah sejak awal” karena kurangnya persiapan dapat dipatahkan dengan fakta di lapangan. Langkah Badan Gizi Nasional (BGN) dalam memperketat standar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan menutup dapur yang tidak layak bukan menunjukkan bahwa program ini “tanpa dasar,” melainkan bukti adanya mekanisme umpan balik.
Ini adalah proses agile dalam tata kelola: jalankan, evaluasi, perbaiki, dan standarisasi. BGN sedang melakukan apa yang dilakukan oleh ilmuwan di lapangan—mengambil data dari kenyataan, mengidentifikasi kegagalan, dan melakukan kalibrasi.
Berhenti Menggunakan Sains Sebagai Tameng Retorika
Annete Mau benar bahwa sains itu penting. Namun, ia salah jika menganggap sains sebagai penghambat atau syarat mutlak yang harus “selesai” sebelum eksekusi dimulai. Di tangan penguasa, sains harus menjadi kompas, bukan rem.
Menyebut MBG “menghinakan ilmu pengetahuan” adalah retorika yang indah di atas kertas, namun di lapangan, yang paling “menghinakan” adalah membiarkan anak-anak kelaparan atau mengalami stunting hanya karena kita terlalu takut untuk melangkah sebelum “kajian” kita dinyatakan sempurna oleh para ahli.
Kadang, keberanian politik untuk mengeksekusi adalah bentuk tertinggi dari keberanian ilmiah.