2026-10-10 // REPORT
Nasional

IFC: Digitalisasi Perluas Pasar dan Dorong Kesejahteraan Pembatik

Desainer sekaligus National Chair Indonesia Fashion Chamber (IFC) Lenny Agustin menilai digitalisasi membuka peluang besar bagi perajin batik di daerah untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.

Menurut Lenny, pemanfaatan media sosial, e-commerce, dan live shopping memungkinkan perajin terhubung lebih langsung dengan konsumen di kota-kota besar hingga pasar internasional.

“Platform digital adalah game changer. Digitalisasi membantu memotong jalur distribusi yang panjang, sehingga perajin daerah bisa langsung terhubung dengan pembeli kota besar bahkan luar negeri,” kata Lenny kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Ia mengatakan akses pasar yang semakin luas melalui kanal digital dapat meningkatkan nilai ekonomi produk batik sekaligus memperkuat posisi perajin dalam rantai industri fesyen.

Platform digital, lanjut Lenny, juga tidak hanya berfungsi sebagai sarana penjualan. Kanal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi konsumen mengenai proses produksi dan nilai yang terkandung dalam setiap produk batik.

Konten visual, misalnya, dapat digunakan untuk memperlihatkan tahapan pembuatan batik, tingkat kerumitan proses manual, serta keterampilan yang dibutuhkan para perajin.

“Platform digital menjadi sarana edukasi visual yang sangat efektif untuk menceritakan proses pembuatan batik kepada audiens global,” ujarnya.

Menurut Lenny, edukasi semacam itu penting karena batik tulis memiliki karakter produksi yang berbeda dengan produk fesyen massal.

Pembuatan batik tulis membutuhkan waktu panjang dan keterampilan tangan melalui berbagai tahapan. Karena itu, produk batik tidak seharusnya hanya dibandingkan dari sisi harga dengan produk fast fashion.

Strategi pengembangan batik, menurut dia, perlu menonjolkan nilai yang melekat pada produk, mulai dari eksklusivitas, keterampilan perajin, hingga proses pembuatannya. Dengan begitu, konsumen dapat memahami perbedaan antara batik sebagai karya budaya dan tekstil bermotif batik yang diproduksi dengan teknik printing.

“Ketika konsumen paham value di balik sehelai kain, mereka tidak akan keberatan membayar harga yang lebih tinggi,” kata Lenny.

Di sisi lain, digitalisasi juga dinilai mampu mendukung keberlanjutan industri batik dengan memperluas basis konsumen serta membuka pasar baru bagi para perajin.

Namun, keberlanjutan tersebut perlu diiringi dengan regenerasi sumber daya manusia yang bersedia menekuni proses pembuatan batik tulis maupun batik cap tradisional yang membutuhkan keterampilan dan waktu cukup panjang.

Lenny menilai keterlibatan generasi muda penting untuk menjaga keberlangsungan industri batik sekaligus memperkuat kesejahteraan para perajin.

“Kita perlu menaikkan taraf kesejahteraan ekonomi perajin agar profesi ini kembali dilirik oleh anak muda sebagai profesi yang membanggakan dan keren,” ujarnya.