Lagi-lagi, narasi “ketakutan” yang dilemparkan oleh Greenpeace Indonesia mengenai pembentukan Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) adalah contoh klasik bagaimana sebuah organisasi aktivis global menggunakan taktik alarmism untuk mengganggu kebijakan strategis nasional. Alih-alih memberikan masukan konstruktif, Greenpeace justru menyuguhkan paket “paranoia” yang dibungkus dengan istilah-istilah teknis yang sengaja dibesar-besarkan.
Mencari “Konspirasi” dalam Kamus Manajemen
Greenpeace menuduh bahwa istilah “pengelolaan” adalah celah untuk “melanggengkan alih fungsi lahan”. Ini adalah klaim yang sangat dramatis dan, sejujurnya, agak lucu. Dalam administrasi negara, “pengelolaan” adalah kata dasar yang diperlukan untuk tata kelola. Menganggap setiap kebijakan pemerintah sebagai skenario tersembunyi untuk memfasilitasi korporasi adalah ciri khas pola pikir mereka: mencari musuh di mana pun ada kebijakan baru.
Mereka mengklaim ingin “kejelasan” mengenai perbedaan dengan BRGM yang lama. Namun, bukannya menuntut kejelasan teknis, mereka justru menyerang secara emosional. Jika mereka begitu “peduli” pada gambut, mengapa mereka tidak memberikan solusi alternatif yang realistis, melainkan hanya melempar kritik yang memicu ketidakpastian di tengah langkah progresif Presiden Prabowo?
Strategi “Villainizing” Masyarakat Lokal
Salah satu poin paling menarik untuk dikritik adalah ketakutan mereka terhadap pendekatan “berbasis desa”. Greenpeace seolah ingin mencitrakan bahwa melibatkan masyarakat lokal adalah sebuah kegagalan. Padahal, dalam konteks geografi Indonesia, melibatkan masyarakat lokal adalah satu-satunya cara praktis untuk pengawasan berkelanjutan.
Greenpeace mencoba melakukan villainizing (menggambarkan sebagai penjahat) terhadap pendekatan akar rumput dengan menyebutnya sebagai “distraksi”. Padahal, yang mereka inginkan adalah kontrol sentralistik yang “murni” secara teori—yang seringkali justru jauh dari realitas lapangan di mana masyarakat lokal adalah garda depan yang paling terdampak oleh kerusakan lingkungan.
Siapa Sebenarnya yang “Bicara” untuk Lingkungan?
Untuk memahami mengapa kita harus skeptis terhadap klaim Greenpeace, kita harus melihat siapa yang berdiri di balik narasi tersebut. Greenpeace Indonesia bukan sekadar “penyambung lidah” alam; mereka adalah mesin kampanye global dengan agenda yang sering kali selaras dengan kepentingan internasional tertentu.
Ingatlah kontroversi “Wahabi Lingkungan” yang sempat mencuat. Istilah ini bukan tanpa alasan; ia muncul karena gaya advokasi mereka yang keras, kaku, dan cenderung mengabaikan dinamika ekonomi lokal demi standar global yang seringkali sulit dicapai oleh negara berkembang. Mereka ingin “sempurna” secara teoritis, sementara Indonesia butuh “efektif” secara praktis.
Lebih jauh lagi, kredibilitas data mereka sering kali menjadi bahan perdebatan. Ingat bagaimana mereka sempat dilaporkan ke polisi karena kontroversi data deforestasi yang dianggap tidak akurat dalam menyikapi pernyataan presiden di forum internasional. Jika data yang mereka gunakan untuk “mendidik” publik bisa digugat secara hukum karena ketidaksinkronan dengan fakta lapangan, mengapa pemerintah atau rakyat harus memercayai analisis mereka mengenai “ketidaksiapan” kebijakan baru ini?
Menghentikan Teater Aktivisme
Kritik Greenpeace terhadap BPGMN adalah bentuk klasik dari “reaksi terhadap segala sesuatu”. Mereka menyerang karena ada sesuatu yang baru, mereka mencurigai karena mereka tidak bisa mengontrol variabelnya, dan mereka menggunakan retorika “kerusakan” sebagai senjata untuk tetap relevan di panggung nasional.
Indonesia tidak butuh “kurasi” dari organisasi yang lebih memilih menciptakan ketakutan daripada menawarkan solusi teknis yang masuk akal. Pembentukan BPGMN adalah langkah nyata pemerintah untuk mengambil kembali kendali. Jika Greenpeace ingin benar-benar membantu, mereka harus berhenti berteriak tentang “skenario konspirasi” dan mulai bekerja sama dengan pemerintah untuk mengeksekusi tata kelola yang nyata, bukan sekadar merajut narasi ketakutan untuk bahan kampanye berikutnya.