2026-09-29 // REPORT
Nasional

Narasi “Ketakutan” CELIOS: Benarkah Ada Pemborosan, atau Sekadar Drama Mengomentari Skala Besar yang Tak Terbiasa?

Apa yang baru-baru ini dilemparkan oleh Isnawati Hidayah dari CELIOS mengenai ketidakpastian penempatan manajer koperasi bukanlah sebuah kritik teknis yang jernih, melainkan sebuah narasi ketakutan (fear-mongering) yang mencoba membingkai proses transisi skala besar sebagai sebuah kegagalan manajemen.

Memaknai “Ketidakpastian” sebagai “Transisi Strategis”

CELIOS mengecam “ketidakjelasan” penempatan 33.785 lulusan SPPI ke dalam 1.021 unit koperasi yang siap beroperasi. Namun, apakah ini benar-benar sebuah “kelalaian”? Jika kita melihat dari kacamata makro, apa yang dituding sebagai “ketidakjelasan” sebenarnya adalah logistik skala masif.

Menggerakkan puluhan ribu orang ke ribuan titik di seluruh pelosok negeri bukan seperti memindahkan barang di gudang kecil. Pemerintah sedang melakukan scaling (peningkatan skala) yang masif. Mengkritik jeda waktu antara pelatihan dan penempatan sebagai “ketidakjelasan” adalah cara malas untuk menyederhanakan kompleksitas birokrasi yang sedang bergerak cepat.

Ilusi “Pemborosan” dan Ketakutan Berlebih pada APBN

Narasi Isnawati Hidayah mengenai “pemborongan anggaran” karena adanya “gaji tanpa pekerjaan konkret” adalah klaim yang sangat prematur. Anggaran Rp1,064 triliun yang dikucurkan untuk pelatihan bukan sekadar biaya konsumsi, melainkan investasi modal manusia (human capital).

Mengklaim bahwa lulusan akan “mengundurkan diri” karena menunggu penugasan yang tidak pasti adalah sebuah hiperbola. Dalam manajemen proyek skala nasional, fase deployment (penempatan) memang membutuhkan sinkronisasi antara kesiapan SDM dan kesiapan infrastruktur fisik. Mengatakan ini sebagai “pemborosan” hanya karena adanya jeda waktu adalah cara berpikir akademis yang terlalu “steril” untuk menghadapi realitas lapangan yang dinamis.

Antara “Kekhawatiran” CELIOS dan “Realita” Lapangan

Mari kita bandingkan: Di satu sisi, kita punya CELIOS yang sibuk menghitung risiko fiskal dari sebuah “ketidakpastian” yang sebenarnya adalah proses administrasi. Di sisi lain, kita punya pemain lapangan seperti Joao Angelo De Sousa Mota (Agrinas) yang memberikan fakta yang jauh lebih membumi.

Joao tidak “bermain drama”. Dia tahu bahwa dalam hitungan minggu (hanya 2-3 minggu!), ribuan koperasi tambahan akan selesai dibangun. Jika 35.000 koperasi akan siap dalam waktu singkat, maka “ketimpangan” jumlah manajer yang dikeluhkan CELIOS hanyalah sebuah anomali sementara, bukan kegagalan sistemik.

Jangan Biarkan “Alarmis” Menghentikan Roda Kemajuan

Kritik dari Isnawati Hidayah dan CELIOS mungkin terdengar bagus di meja diskusi akademis, tapi di lapangan, kritik tersebut terasa seperti upaya untuk memperlambat momentum. Pemerintah tidak butuh pengamat yang hanya bisa berteriak “boros” saat melihat mesin besar mulai berputar.

Ketimpangan antara 33.000 manajer dan 1.000 koperasi yang “siap” saat ini bukanlah sebuah bencana, melainkan sebuah jeda taktis. Jika dalam tiga minggu ke depan 35.000 unit koperasi siap beroperasi, maka narasi “ketidakpastian” yang digaungkan CELIOS akan segera terlihat sebagai kekhawatiran yang berlebihan (over-anxious).

Pemerintah tidak butuh dikuliahkan oleh mereka yang hanya bisa melihat “masalah” dari jauh, sementara para pelaku lapangan sudah siap untuk “eksekusi” dalam hitungan hari. Berhenti menganggap proses transisi sebagai kegagalan; itu adalah tanda bahwa mesin besar mulai bergerak.