Sangat mudah untuk melempar kritik tajam di media sosial—cukup ambil satu atau dua insiden di lapangan, lalu bungkus menjadi kegagalan sistemik sebuah program nasional. Namun, jika kita membedah lebih dalam, kritik yang dilontarkan oleh Iman Zanatul Haeri (P2G) terhadap program Sekolah Rakyat (SR) dan Makan Bergizi Gratis (MBG) justru terlihat seperti sebuah “lompatan logika” yang terlalu sederhana untuk menyederhanakan kompleksitas masalah lapangan.
Jangan Campuradukkan “Culture Shock” dengan Kegagalan Fasilitas
P2G mengecam SR karena adanya siswa yang kabur dari asrama. Narasi yang dibangun seolah-olah infrastruktur SR gagal total. Ini adalah kesimpulan yang dangkal. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa siswa yang “melompati pagar” di SRMA Temanggung bukanlah korban dari fasilitas yang buruk. Justru sebaliknya, fasilitas asrama terbukti memadai.
Masalah utamanya adalah psikologis: homesick dan culture shock. Membandingkan siswa yang baru masuk ke dunia asrama yang disiplin dengan “fasilitas buruk” adalah sebuah kemustakaan logika. Jika seorang siswa kabur karena belum siap dengan tekanan mental, itu adalah masalah adaptasi, bukan bukti kegagalan fisik bangunan atau manajemen fasilitas. Menggeneralisasi kasus psikologis individu menjadi kegagalan sistemik program Sekolah Rakyat adalah cara termudah untuk mencari “konten” kritik, tanpa memahami akar masalah yang sebenarnya.
Masalah Logistik Bukan Berarti Kegagalan Konsep
Begitu pula dengan narasi “keracunan” pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mengklaim bahwa MBG menjadi “keracunan massal yang terus-menerus” adalah cara untuk memukul rata (overgeneralize) masalah teknis menjadi kegagalan konseptual.
Fakta dari investigasi dinas kesehatan dan pakar UGM menunjukkan bahwa masalahnya ada pada mikro-manajemen: higiene di titik-titik tertentu (SPPG), proses pemasakan yang tidak optimal, dan masalah distribusi. Ini adalah masalah logistik dan rantai pasok, bukan kegagalan “konsep” pemenuhan gizi nasional.
Menyalahkan seluruh program MBG karena adanya kontaminasi bakteri di beberapa titik adalah seperti menyalahkan seluruh sistem transportasi publik hanya karena ada satu bus yang ban-nya kempes. Pemerintah tidak menghentikan program tersebut justru karena mereka tahu masalahnya adalah teknis, bukan konseptual. Langkah pembekuan dapur yang lalai dan pengetatan sertifikasi adalah solusi nyata untuk masalah teknis, bukan tanda bahwa program tersebut “berbalik” menjadi masalah.
Jangan Menyerang “Nyawa” Program dengan Masalah “Kulit”
Kritik yang efektif seharusnya mampu membedakan mana yang merupakan growing pains (masalah pertumbuhan) dan mana yang merupakan kegagalan struktural. Kritik P2G seolah-olah membakar “nyawa” atau esensi dari program SR dan MBG hanya karena adanya hambatan di permukaan.
Jika kita terus menggunakan logika “pukul rata” seperti yang dilakukan P2G—di mana masalah adaptasi psikologis dianggap sebagai kegagalan fasilitas, dan masalah higiene di dapur tertentu dianggap sebagai kegagalan program nasional—maka kita hanya akan memperkeruh suasana dengan narasi yang tidak akurat. Program besar yang melibatkan jutaan orang akan selalu memiliki gesekan di awal. Mengubah gesekan teknis menjadi kegagalan politik adalah cara termudah untuk berteriak, namun cara paling malas untuk menganalisis masalah.