Rajab dan Sya’ban di Jakarta

POROSINDONESIA – Di jaman yang serba alai dan penuh hura-hura sekarang ini orang semakin jauh dengan nilai spiritual. Ditambah lagi dengan proyek para predator pemecah belah umat yang ada di sana sini semakin memperparah keadaan. Hata dibentengi dengan syariat Islam yang kokoh, umat tetap saja terbawa gelombang dan arus sosial yang selalu menghembus dengan kencang.

Tak ayal disana-sini umat telah banyak beralih kebiasaan bahkan beralih keyakinan (Aqidah) dengan dalih tuntutan ekonomi, fashion, sandang dan pangan untuk mencukupi kebutuhan dirinya ,keluarga dan mazhabnya masing-masing. Idealisme menjadi matrealisme. “Semua hanya karena minimnya pemahaman dan rendahnya keimanan”, begitulah kata para pendakwah. Bahkan fenomena kekinian,orang yang berilmu-pun tega mengenyampingkan kebenaran demi nama,status serta materi yang didapatkan. Beginilah realitas yang sering dijumpai sekarang, dimanapun kita berada, di desa-desa bahkan sampai di kota-kota.

Jakarta sebagai ibu kota,pusat bisnis,pusat informasi,sebagai pusat aktifitas kerja,mulai dari pemulung hingga para elit,bahkan segala sesuatu yang kita inginkan semua ada di Jakarta. Dengan gambaran ini mudah memberikan stigma bahwa sekarang dan lambat laun aktifitas keagamaan,norma-norma dan etika yang ada di Jakarta akan sirna serta hilang dibawa angin dan diterjang badai jaman, kekhawatiran dan ketakutan itu ada pada banyak orang di luar sana. Hal ini sangat berbeda dengan yang saya jumpai. Anggapan dan stigma yang berkembang di khalayak justru bertolak belakang dengan apa yang saya rasakan ketika ada di Jakarta. Apalagi ketika masuk bulan rajab dan sya’ban, terasa ada angin yang membawa kedamaian dan kesejukan di Jakarta.

Suasana hening, suasana haru,suasana bahagia,suasana sejuk,suasana syahdu,suasana nyaman,suasana penuh damai, seakan menghilangkan rasa penat dan jemu bagi bagi saya dan setiap orang hidup di Jakarta. Kenapa? Karena pada bulan rajab dan sya’ban para habaib,para kiyai,para ustadz,serta muballigh memanfaatkan dua bulan ini sebagai momen memperingati isra’ dan mi’rajnya Nabi Muhammad SAW,momen dimana umat islam dikenalkan dengan sejarah printah solat, momen dimana umat islam dikenalkan dengan keimanan abu bakar As-Siddik,momen dimana umat islam dikenalkan dengan perjuangan sosok suri tauladan yang baik(Rasulullah), yang dalam kalamnya habib Muhammad Bagir Bin Yahya dalam satu mauidzohnya, “beliau (Nabi Muhammad) adalah bagian dari cahaya Allah”.

Menjamurnya majelis solawat,majelis pengajian,majelis ‘ilmu dan berbgai nama dan variannya, yang di gelar oleh para habaib,kiyai,ustadz dan mubaligh yang ada se-antero Jakarta, yang di dalamnya dibicarakan banyak hal yang berkaitan dengan Islam, ditaburi dengan solawatan,tasbih,tahlil dan tahmid seakan membuat kita yang mendengarkan seakan berada di taman syurga yang sangat indah. Beda halnya dengan kita membaca buku, menonton youtube bahkan akses media lainnya yang memuat hal yang sama. Sebab menyaksikan secara langsung orang-orang soleh seperti mereka yang yang membuat kita ingat kepada yang menciptakan kita akan memasukan rasa khauf(rasa takut) yang mendalam, tanpa disadari kita akan mengintropeksi diri,mengingat keterbatasan dan kealpaan kita selama kita hidup di dunia ini. Begitulah hikmah terindah jika ada di Jakarta, khususnya disaat bulan rajab dan sya’ban saat ini.

Oleh: Juraidin (Mahasiswa pascasarjana PTIQ-Jakarta)