Peradaban Tangguh

POROSINDONESIA – Islam dan umat Islam adalah satu kesatuan yang sangat menyita perhatian setiap generasi penerus dan menjadi pengamatan serius mereka yang selalu gagal paham terhadap Islam. Samuel Huntington termasuk orang yang terlampau berlebihan kekeliruannya dalam memandang Islam, terutama dengan apa yang direkomendasikan olehnya kepada Amerika Serikat, bahwa setelah Soviet runtuh, musuh peradaban Barat setelah itu adalah Islam. Menurut Huntington, sumber mendasar dari konflik dalam dunia baru bukan lagi dari segi ideologi atau ekonomi, melainkan budaya. Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik yang dominan.

Negara-negara tetap akan menjadi aktor yang paling kuat dalam percaturan dunia, tapi konflik politik global yang paling prinsipil akan terjadi antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok karena perbedaan peradaban mereka. Pertentangan antara peradaban akan mendominasi politik global. Garis-garis pemisah peradaban akan menjadi garis-garis pertentangan di masa depan.

Gambaran masa depan dunia yang dibangun Huntington nampaknya seolah betul, tetapi, andai pun betul terjadi, itu bukan karena sifat dasar alamiah budaya atau pun peradaban yang benar-benar berbeda dan karena itu akan berbenturan. Tetapi karena sifat Barat yang gemar menghegemoni peradaban lain di dunia, dan mengaminkan tesis provokatif tersebut, sehingga peradaban manapun yang dinilai potensial menghambat dijadikannya sebagai ancaman. Dan tentu saja sikap demikian diambil lebih karena Barat sebagai peradaban tidak benar-benar memiliki pandangan hidup yang memadai dalam mengayomi penduduk dunia.

Zainal Abidin Bagir dalam artikelnya berjudul Menguji The Clash of Civilizations Samuel P. Huntington menghadirkan kritik yang disampaikan oleh Tariq Ali. Menurut Ali, kategorisasi peradaban Huntington cenderung statis dan monolitik. Padahal peradaban sendiri memiliki komplekstitas dan berbagai perbedaan antar pendukungnya. Senada dengan Tariq Ali, Edward Said juga mengkritik pandangan Huntington. Menurutnya, peradaban bukanlah kotak tertutup. Sejarah memaparkan secara jelas dinamika interaksi, pertukaran, dan saling pinjam antar peradaban.

Dalam skala sederhana, ternyata terbukti, terutama ketika melihat uraian Frances Gouda dalam bukunya Dutch Culture Oversias Praktik Kolonial di Hindia Belanda, 1900 – 1942. Tidak jarang orang Belanda menggunakan bahasa orang Indonesia bahkan Jawa. Artinya, ada sisi-sisi tertentu Belanda pun harus meminjam apa yang ada di Indonesia.

Pada sisi yang lain, Belanda sebagai bagian dari Negeri Eropa sama sekali tidak mampu meninggalkan kebudayaan atau peradabannya di Negeri Katulistiwa ini. Mengapa? Boleh jadi bukan karena kepintaran Belanda yang kalah unggul dengan Indonesia, tetapi cara mereka menjajah benar-benar tidak berprikemanusiaan. Sedangkan di dalam Islam, hidup itu tak cukup sebatas pintar, tetapi juga harus memiliki integritas dan sifat welas asih sebagai bukti nyata diri memiliki iman kepada Tuhan.

Namun spirit iman inilah yang dinilai peradaban lain sebagai ancaman, sehingga Barat sangat pandai membuat stigmatisasi terhadap epradaban lain, terutama Islam dan Timur. Barat menganggap Timur dan atau Islam sebagai umat yang miskin, bodoh, kuno, kontemplatif, menolak rasionalitas dan sebagainya, termasuk belakangan dengan stigma teroris.

Akan tetapi, manusia bukanlah makhluk tanpa akal yang bisa berpikir dan hati yang dapat memahami sesuatu dengan jernih. Sedemikian kerasnya peradaban lain menghantam Islam, tetap saja peradaban yang pertamakali diusung oleh Nabi Muhammad itu tidak pernah benar-benar padam. Jenghis Khan misalnya, manusia besar Mongol itu pernah menghancurkan pusat peradaban umat Islam di Baghdad kala itu. Tetapi, peradaban bukanlah akar, tetapi buah dari keyakinan. Maka ketika Bahgdad hancur, yang hilang adalah materialnya, tetapi tidak dengan keyakinannya, sehingga dua keturunan dari Jenghis Khan justru lebih memilih Islam sebagai keyakiannya.

Fenomena terbalik pun terjadi saat ini. Ketika Barat begitu bernafsu menyerang Islam justru negeri-negeri dimana peradaban Barat hidup ajaran Islam justru diterima dengan sangat baik, tanpa stigmatisasi dari umat Islam terhadap Barat, tanpa protes atau pun aksi balas dendam kepada ras kulit putih itu atas kekejamannya di masa kolonialisme. Sebuah riset menyebutkan bahwa kini, umat Islam di Eropa pada 2016 telah mencapai angka 53 juta jiwa.

Hari ini, Israel semakin membuat jalan mulus untuk umat Islam seluruh dunia terkonsentrasi pada isu Masjidil Aqsha, sebuah tahapan yang tentu saja akan semakin membuka mata hati manusia, mana sebenarnya peradaban yang tangguh dan unggul di bumi ini. Jika suatu saat penduduk bumi berbondong-bondong masuk Islam, maka itu adalah karena ulah mereka sendiri, yang mengarusutamakan kebencian daripada kesadaran atas ilmu dan kebeningan hati dalam memandang Islam, baik sebagai agama maupun peradaban.

Dengan demikian benarlah ungkapan yang mengatakan bahwa “Kelembutan adalah kekuatan yang sesungguhnya.” Lihatlah Barat yang dengan teknologinya menciptakan penjajahan, orang tidak sudi mengikuti peradabannya. Lihatlah Israel yang memperlakukan rakyat Palestina secara tidak manusiawi dengan backing Amerika Serikat lengkap dengan teknologi perangnya, tetap tak membuat orang ingin menjadi seperti Amerika apalagi Israel.

Sebaliknya, sekalipun umat Islam dipandang remeh, namun ajarannya yang sangat jernih dan mententeramkan hati, jantung peradaban Barat pun tak bisa lepas dari pesona Islam sebagai agama sekaligus peradaban, yang dalam sejarahnya terbukti sangat tangguh, unggul dan superior. Meskipun hari ini umat Islam di Indonesia belum seutuhnya menyadari superioritas Islam sebagai peradaban.

Oleh: Imam Nawawi (Penulis Buku Sabar dan Change Yourself You Change The World)