Mengenali Dunia

POROSINDONESIA – Judul tulisan ini boleh jadi terkesan ukhrowi, tetapi sadar atau tidak, yakin atau tidak, bahkan mau atau tidak, fase terakhir kehidupan anak Adam adalah akhirat. Menariknya, tidak satu pun ilmu yang bisa membahas tentang dunia, melainkan apa yang diajarkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam kata lain, tidak ada sumber valid yang bisa menjelaskan duduk perkara dunia, melainkan Islam.

Sekiranya pun manusia coba mengenali dunia dengan perangkat indera dan akalnya, tahap maksimalnya boleh jadi seperti yang dilakukan oleh filosof Yunani yang kemudian memberikan definisi manusia sebagai hewan yang berbicara atau berpikir. Atau dalam era imperialisme, dimana dunia dipandang tak lebih sebagai medan eksplorasi, siapa yang memahami, pasti menguasai. Oleh karena itu, penjajahan pun menjadi halal, sebab dunia memang ajang siapa cepat dia dapat, siapa kuat dia berdaulat. Karena itulah penindasan Barat terhadap Timur berjalan besar-besaran dan bahkan menjadi perlombaan di antara mereka.

Demikianlah ujung dari pencarian akal dan indera manusia mengenali dunia. Tidak melahirkan kebijaksanaan, tetapi kebuasan. Satu memakan yang lain. Satu menistakan yang lain. Dan, satu menjajah yang lain. Sebab, tak mengenali dunia sama dengan tak mengenali tujuan dari hakikat kehidupan. Pemahaman dunia yang demikian telah lama ada dalam sejarah kehidupan umat manusia. Bahkan umat terdahulu (yang manusia tak mampu mengenalnya karena belum ditemukan tulisan) sangat pandai dalam masalah bangun-membangun dan menyusun kekuatan. Namun, semua hancur, binasa, disebabkan gagal mengenali dunia secara nyata.

“Dan betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari pada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka, maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka” (QS. Muhammad [47]: 13). Dengan demikian, satu-satunya cara untuk mengenali dunia dengan benar adalah melalui agama (Islam).

Muhammad Iqbal dalam karyanya “The Reconstruction of Religious Thougt in Islam” menjelaskan bahwa agama bukanlah masalah yang terpisah-pisah, ia bukan sekedar pikiran atau perasaan, bahkan bukan pula sekedar tindakan. Agama adalah ungkapan manusia secara utuh. Oleh karena itu, agama adalah yang sentral dalam kehidupan ini. Ketika disebut sentral, maka agama (Islam) adalah panduan (way of life) dan apapun yang dilakukan umat Islam, sudah semestinya bersumber dan sesuai dengan ketentuan agama. Tetapi, hari ini kita akan berhadapan dengan hegemoni peradaban Barat yang bersumber pada rasio dan indera.

Tetapi jangan kalap. Mari lihat secara adil. Jika sampai hari ini peradaban Barat memandang rasio dan akal sebagai sumber manusia menemukan kebenaran, Al-Qur’an menjelaskan bahwa pendengaran, penglihatan sebagai anugerah Ilahi yang paling berharga (QS. 16: 78, 23: 78, 32:9, 67: 23) dan menyatakan bahwa keduanya dimintai tanggung jawab oleh Tuhan atas segala kegiatan keduanya di dunia ini (QS. 17: 36). Artinya, aktivitas manusia dengan akal dan inderanya tidak bebas alias tanpa sistem kontrol dan karena itu bisa semena-mena. Ada masa dimana kemudian seluruh kegiatan umat manusia dimintai pertanggungjawaban.

Hebatnya, penjelasan semacam ini hanya ada di dalam Al-Qur’an. Dalam kata yang lain, hanya melalui Al-Qur’an akal dan rasio akan bekerja secara benar, sehingga progresivitas yang dicapai baik dalam wujud inovasi kehidupan di segala sisi kehidupannya, tidak saja menambah sisi kecanggihan, tetapi memang dijamin mendatangkan maslahat dalam kehidupan. Atas dasar itu, Iqbal melanjutkan bahwa tujuan dari diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk membangkitkan kesadaran yang lebih tinggi dalam diri manusia terkait relasi dirinya dengan Tuhan dan alam semesta, tentu saja termasuk dalam mengenali dunia, sehingga tidak hidup laksana binatang buas, melainkan seperti lebah yang sangat mengagumkan. Oleh karena itu, mau tidak mau, memang hanya dengan kembali pada ajaran agama (Islam) semata, kita akan mengenali dunia secara benar. Beruntung umat ini pernah mendapatkan anugerah dari Tuhan seorang intelektual yang sangat luar biasa, yakni Imam Ghazali.

Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa pokok setiap kesalahan adalah mencintai dunia. Berapa banyak nafsu syahwat satu saat mewariskan kepada pemiliknya kedukaan yang panjang. Namun, tetap saja, banyak manusia tak mengenal hakikat dunia. Rasulullah bersabda, “Memperbanyak harta itu telah melalaikan kamu. Kemudian anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Tidak ada bagimu dari hartamu itu kecuali harta yang engkau makan, lalu engkau rusakkan, atau harta yang kamu pakai, lalu engkau usangkan, atau harta yang engkau sedekahkan, lalu engkau kekalkan” (HR. Muslim).

Pantas jika kemudian sering diungkapkan para ulama dan dai, bahwa Rasulullah sangat mengkhawatirkan atas diri kita sebagai umatnya bukanlah kefakiran (kurang harta), tetapi kelapangan dunia. “Bergembiralah dan berangan-anganlah dengan apa yang menggembirakan kamu. Demi Allah, tidak ada kefakiran yang lebih aku takuti kepadamu, akan tetapi aku takut kepadamu bahwa dunia dilapangkan kepadamu sebagaimana dilapangkan kepada orang-orang sebelum kamu. Kemudian kamu berlomba-lomba kepada dunia sebagaimana mereka berlomba-lomba. Maka dunia itu membinasakan kamu sebagaimana dunia itu membinasakan mereka” (HR. Bukhari).

Dari sini kita dapat menganalisa problema bangsa dan negara akhir-akhir ini yang tak sepi dari kasus korupsi dan kejahatan yang terus terjadi di sana-sini. Mengapa itu terjadi, jawabannya menjadi sangat singkat, mereka tak mengenali dunia. Dalam kata yang lain, jika bangsa dan negara ini ingin aman dan sentosa, hendaknya setiap diri mau mengenali dunia dengan benar. Gunakan akal pikiran untuk menajamkan iman, mendorong hati menciptakan kemaslahatan lewat ucapan dan perbuatan melalui status dan jabatan yang diemban.

Dengan demikian, dunia yang fana ini akan efektif mengantarkan kita semua pada kebahagiaan yang nyata. Kebahagiaan hakiki yang tak mungkin diraih, sejauh diri gagal paham terhadap segala hal yang berdimensi duniawi. Wallahu a’lam.

Oleh: Imam Nawawi (Sekretaris Jenderal Syabab Hidayatullah)