Cerita & Mitos

Kisah Berdirinya Desa Podoroto Jombang, Konon Berawal dari Peritiwa Garu Sawah

×

Kisah Berdirinya Desa Podoroto Jombang, Konon Berawal dari Peritiwa Garu Sawah

Sebarkan artikel ini
membajak sawah 1
Ilustrasi

JOMBANG, PorosIndonesia.com – Podoroto, salah satu desa yang secara administratif berada dalam wilayah kecamatan Kesamben, kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Nama Podoroto, mengandung dua kosakata bahasa Jawa. Yakni, Podo berarti sama, sedangkan Roto bermakna rata.

Kisah berdirinya desa Podoroto, berkaitan erat dengan kisah seorang petani yang sedang membajak sawah.

Loh, apa hubungannya?

Begini, konon desa Podoroto bermula dari keberadaan dusun Garu. Sedangkan nama ‘Garu’ adalah bahasa Jawa yang artinya alat membajak sawah atau meratakan tanah.

Penamaan wilayah menjadi dusun Garu, diambil dari peristiwa besar nan langka kala itu, yaitu terjatuhnya alat pembajak sawah yang lepas dan terlempar dari kerbaunya.

Suatu hari, ada seorang petani sedang menggarap atau meng-garu (meratakan tanah) sawahnya.

Tentunya, zaman dulu, sebelum banyak beralih memakai traktor, masyarakat petani ketika itu memakai hewan kerbau sebagai alat penggerak membajak sawah.

Nah, ketika pak petani itu konstentrasi menggaru sawahnya, kedua kerbau yang dipakai membajak atau meratakan sawah tersebut mendadak berontak.

Entah apa penyebab pastinya hingga kerbau pak tani itu ‘marah’. Bisa jadi, karena terlalu keras dicambuk.

Hewan kerbau itu pun lari kencang, sampai-sampai alat garu yang menempel di badannya, terlempar. Sedangkan pak tani, juga terjatuh ke sawahnya yang sedang digarap.

Tau kerbaunya lari, pak tani seketika bangkit dan mengejar kedua kerbaunya. Hanya saja, upayanya sia-sia lantaran kerbaunya sudah menyeberangi sungai Brantas.

Karena memang, wilayah dusun Garu berbatasan langsung dengan sungai terbesar di Jawa Timur itu.

Gagal mengejar dan mendapatkan kembali kerbaunya, petani tersebut pun pulang dengan tangan kosong. Pikiran dan perasaannya kacau, galau, dan gelisah. Yang pasti, dia terancam tidak bisa lagi meng-garu sawahnya sebelum kerbau itu pulang atau bisa membeli hewan kerbau lagi.

Dalam kondisi gontai ketika perjalanan pulang, pak tani menemukan garu yang terlempar dari kerbaunya yang berontak ketika membajak sawahnya.

Nah, lokasi ditemukannya alat membajak sawah itulah, kemudian wilayah tersebut dinamakan Garu. Kebetulan, wilayah tersebut belum punya nama, dan ketika itu penduduknya juga masih sangat jarang.

Seiring perkembangan zaman, wilayah Garu ini mulai banyak penduduknya. Akses jalan juga sudah mulai terbuka untuk menjalin hubungan dan kerjasama dengan wilayah atau desa tetangga.

Di antaranya, jalan menghubungkan ke wilayah Kedungboto, Kedungdowo, Ngemplak, dan Kalimati.

Terbukanya akses jalan antara desa ini, menjadikan hubungan dan kerjasama penduduk di wilayah/ dusun Garu dengan desa tetangga, makin erat.

Bahkan, hubungan dan kerjasama tersebut terjalin di berbagai bidang. Di antaranya, bidang ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.

Dari eratnya hubungan dan kerjasama saling memberi manfaat itulah, menjadi dasar menyatukan kelima wilayah itu menjadi satu desa. Dan sekitar tahun 1900-an, desa tersebut kemudian diberi nama Podoroto.

Sebagaimana disebut di awal, istilah Podoroto yakni berarti sama rata. Di mana, lima wilayah yang melebur jadi satu itu sama-sama menjadi dusun.

Sedangkan rata, diambil dari makna harfiah garu. Di mana garu merupakan alat untuk meratakan tanah. (nas)

Sumber: Laman desa Podoroto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *