Cinta, Logika dan Iman

POROSINDONESIA — Umumnya orang memahami cinta yang murni adalah cinta yang tak mengenal alasan. Selama seseorang memiliki alasan mencintai orang lain, itu bukan cinta sejati. Di sisi lain, tidak sedikit manusia yang bingung akan cinta, karena referensi mereka tentang cinta sebatas pada cerpen, novel, dan lagu-lagu belaka.

Padahal, cinta ada dalam berbagai kajian kehidupan. Dalam kamus bahasa Indonesia, cinta belakangan berarti “suka sekali, sayang benar.” Maka, jika dikatakan Adam mencintai Hawa, maka Hawa itulah yang benar-benar menguras rasa suka dan sayang dari seorang Adam. Pada makna tersebut, kita bisa melihat secara eksplisit bagaimana cinta yang sesungguhnya.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya” (QS. Al-Maidah [5]: 54).

Jika digali dengan makna cinta dalam kamus bahasa Indonesia, berarti Allah suka sekali dan sayang benar kepada mereka dan mereka pun suka sekali dan sayang benar kepada Allah Ta’ala, yang itu artinya, cinta mereka menggelorakan gerak langkah hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.

Menurut Ibn Katsir, cinta sejati hanya dimiliki oleh orang yang beriman. Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang sangat mencintai Allah, dan karena kecintaannya itu maka seseorang atau orang-orang beriman akan berusaha untuk menyempurnakan pengetahuannya tentang islam dan senantiasa mematuhi dan menjauhi larangannya serta senantiasa bertawakal dan menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.

Dalam kata yang lain, cinta dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari iman dan logika. Mengapa seorang Muslim harus menghindari pacaran dan berani menikah? Tidak lain, karena imannya kepada Allah dan logikanya bekerja untuk membuktikannya dengan mengikuti sunnah Nabi, yakni menikah. Bukan bereksperimen dalam hal hati yang sesungguhnya memperturutkan hawa nafsu atas nama cinta. Oleh karena itu, Islam memberikan panduan dalam memahami dan memanivestasikan cinta, secara khusus relasi wanita-pria. Dan, ini didasari oleh alasan.

“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lebih jelas lagi, ditekankan di dalam Islam agar para orang tua memahami alasan mengapa harus menerima dan menolak. “Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi” (HR. Tirmidzi).

Jadi, jika Anda Muslim lalu Anda mencintai wanita atau pria dengan tanpa alasan iman dan logika, Anda bukan sedang berada dalam cinta yang sebenarnya, tetapi justru ketidaktahuan. Sebab, yang namanya maslahat hidup, itu tidak didasari oleh cinta belaka, tetapi oleh cinta yang tumbuh atas dasar iman yang ditopang oleh logika.

Oleh karena itu, Ibn Qayyim menguraikan bahwa cinta tidak boleh dikecam lalu diingkari. Namun, cinta juga tidak boleh langsung dipuji atau diterima mentah-mentah. Masalah ini akan menjadi jelas jika kita memahami hal-hal yang berhubungan dengan cinta dalam Islam. Jika tidak, fakta membuktikan bahwa sebagian kasus pemerkosaan terjadi justru dialami oleh pacar sendiri, bahkan sebagian terjadi dengan teramat sadis, dimana teman-teman dari sang pacar juga ikut melakukan aksi biadab. Apakah itu cinta?

Indikasinya sederhana, jika Anda berpacaran, lantas aktivitas Anda kian jauh dari agama, berani berbohong kepada orang tua dan saudara, termasuk guru dan tidak fokus belajar di sekolah, karena sibuk berpacaran, sadarlah itu bukan cinta, tapi awal dari nestapa. Percaya atau tidak, mereka yang akhirnya menjadi ternoda dan menjanda, umumnya lebih percaya kepada pacar daripada orang tua, lebih-lebih pada tuntunan agama.

Menariknya dalam Islam, cinta tak semata diwakili oleh kata al-hubb atau mahabbah (cinta kasih) tetapi masih ada istilah lainnya. Seperti, ‘isyq yang berarti cinta yang meluap-luap, al jawa yang artinya cinta yang membara, kemudian al-balabil, cinta yang gelisah, al-sadam, cinta yang berakhir dengan sesal, al-khilabah, yang berarti cinta yang mengecoh. Nah, jika dipersilakan memilih, mana pilihan cinta yang Anda inginkan?

Sekarang, mari kita lihat bagaimana cinta Rasulullah kepada ummatnya. Saat menjelang ajal, beliau tidak menyebut istri, keluarga, harta dan tahta. Beliau menyebutkan, “Ummati-Ummati-Ummati” yang artinya, “Ummatku-Ummatku-Ummatku.”

Anda tahu bagaimana cinta Rasulullah kepada ummatnya?

Cinta itulah yang mungkin digubah oleh Rumi dalam syairnya.

“Cinta tak dapat ditemukan melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan, buku-buku dan tulisan-tulisan. Apa pun yang kau dengar dan katakan (tentang cinta) kulit semata: inti cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Seseorang bertanya, ‘Apakah cinta?’ Jawabku, bertanyalah tentang makna-maknanya.”

Pertanyannya sekarang, mengapa kita harus mengambil makna dan manivestasi cinta menurut Islam? Sebab, dalam Islam, cinta yang benar akan mendatangkan kebahagiaan, berupa ampunan dari sisi Allah Ta’ala.

“Katakanlah (Wahai Rasulullah), Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali Imron [3]: 31).

Dalam kata yang lain, Anda wahai kaum hawa, jika ada yang datang dan berkata ‘Aku akan menikahimu’ maka wajib dipertimbangkan dengan melakukan musyawarah keluarga. Tetapi, jika ada pria datang, ‘Aku sangat mencintaimu’ kemudian menginginkan apa-apa berduaan tanpa komitmen pernikahan yang jelas, pasti dan segera, maka abaikanlah ucapan tersebut. Sebab, itu bukan cinta.

Kodenya jelas di dalam Al-Qur’an, bahwa cinta yang benar adalah cinta yang menghendaki pernikahan. Dan, orang beriman ia tidak akan takut hidup hanya karena menikah.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah SWT akan mengkayakan mereka. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui” (QS. An-Nur [24]: 32).

Lantas, bagaimana dengan data yang berkembang belakangan, dimana banyak keluarga mengalami perceraian? Itu bisa ditelisik dari bagaimana riwayat pernikahan di antara mereka berlangsung. Apakah didasari iman dan logika, atau semata-mata atas nama bara cinta yang katanya buta!

Sebab, cinta yang didasari iman dan logika, adalah cinta yang mengerti apa makna keluarga, bagaimana membinanya dan memperjuangkannya, sehingga kasih sayang yang mewujud tak lekang oleh waktu dan tak sirna karena jarak. Lihatlah Rasulullah, sekalipun Khadijah telah meninggal dunia dan di sisinya ada Aisyah yang muda nan jelita, cintanya kepada Khadijah tak pernah pudar, hingga Aisyah pun meradang karena cemburu.

Sahabat, temukanlah cinta yang seperti itu, cinta yang akan terus membuatmu tunduk patuh kepada Allah Ta’ala bersama sang kekasih, menggapai ridha-Nya. Wallahu a’lam.

Penulis: Imam Nawawi (Penulis Buku Sabar dan Change Yourself You Change The World)